Kamis, 09 Juni 2016

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, dirahasikannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu.
.
.
Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar saputangan yang telah ditenunnya sendiri.

Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang.

Bagaimana mungkin.

Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono.

Terlambat Namun Tepat

Awalnya kupikir terlambat. Ketika orang sedang menggebu-gebu seakan tengah berlari-lari aku malah asik berjalan atau bahkan diam. Sesuai alurku, sesuai inginku, sesuai mauku, semua seperti ini.

Mengalir, apa adanya. Meski kadang-kadang, tergenang dan bahkan kering.

Ku pikir, ketika aku membaca ini sebagian orang akan berpikir aku ketinggalan. Tapi, bagiku tak masalah. Aku baru saja memulai dan juga mengisi kembali semangat-semangat diri yang mulai terkikis.

Lebih dari delapan buku yang kubaca dalam beberapa bulan terakhir ini hanya beberapa bab diawalnya saja. Tak kuselesaikan. Ku gantung bahkan ku lupakan. Ntahlah, aku tak bisa menikmatinya meski selalu ku coba untuk memancingnya dengan bacaan-bacaan ringan lainnya.

Aku bagaikan hidup segan mati tak mau. Otak seolah-olah buntu. Pikiran membeku dan tak bisa berbabibu. Beraktivitas hanya dengan fisik tanpa bisa berpikir jernih. Ahk, aku memang jenuh. Suatu hal yang terus membayang-bayangi membuatku semakin stres belakangan ini.

Ku nikmati, ku syukuri, ku jalani. Hanya saja masih terasa membebani, padahal aku selalu membuangnya dari rasa beban. Biarlah, pasti akan ada waktu yang tepat.

Perjalananku menuju pulau jawa, memang kuniatkan untuk membawa buku bacaan yang kuharapkan mampu ku serap kembali dan merefreshkan apa yang telah beku. Dan buku ini adalah pilihanku.

Ku mulai membacanya ketika perjalanan menuju sebuah kota yang menjadi latar belakang cerita di dalam novel tersebut. Dan ternyata waktu kurang lebih 5jam-an yang ku tempuh tak kugunakan secara efektif. Aku mabuk perjalanan dan kemudian buku hanya ku letakkan di sampingku.

Singkat cerita, selama di kota tujuan. Buku selalu ku bawa kemana-mana disetiap hendak bepergian menggunakan kendaraan. Ku mulai mengenali sekeliling kota yang sekarang aku diami. Ku pahami isi buku yang sedang aku baca, semua mengalir menyatu. Aku menemukan kehidupan.

Dan ku pikir, seandainya di kota tempat ku tinggal bisa membaca di setiap perjalanan menuju kemana pun pasti mengasyikkan. Sayangnya, semua tak bisa ku lakukan (karena aku mengendarai sepeda motor dan kota tempat ku tinggal tidak dominan dengan  transportasi umum)

Terima Kasih Milea, Dilan, cerita kalian membawa kehidupan lagi untukku.
.
.
.
📝 Ketika aku merasa terlambat, ternyata aku berada di waktu yang tepat.
📷Nasya Nr.
.Bandung. Di kost orang.

Bukan untuk orang lain

Kau tak perlu menjadi siapapun,
cukup jadi dirimu sendiri.
Mungkin kita perlu belajar menata diri,
tetapi bukan menjadi pribadi orang lain.
.
.
.
- Nasya Nr -

Apalagi?

Ketika benar-benar lelah kau tak bisa istirahat.
Ketika benar-benar mengantuk kau tak bisa terpejam.
Ketika kau merindu tak kunjung bertemu.
Adakah hal yang lebih menyakitkan?
.
.
.
- Nasya Nr -