Lagi-lagi aku belajar, disetiap waktu dan tempat kemudian perjalanan.
Ketika pilihan selalu datang mendesak, ingatlah mana yang lebih kau setujui dan disertai mana yang lebih penting meski berujung pusing.
Hal yang demikian pasti tak jarang kau rasakan. Hanya saja harus saling mengikhlaskan. Rela meninggalkan salah satu atau semuanya. Karena tidak memilih pun adalah sebuah pilihan, kau yang mengendalikan.
Walaupun diujung pilihan ada rasa kekecewaan, setidaknya kau bisa melihat mana yang benar-benar nyata ada untuk mendukungmu dan mana yang hanya sekadar berbabibu.
Mulailah berpikir kembali, yang awalnya ingin kau perjuangkan namun tak ada dukungan seketika itu pula kau hanya beralih sekali namun kembali tetapi malah dianggap mati, ikhlaskanlah.
Lihat siapa yang memelukmu setiap hari. Siapa yang kemudian akan kau lepas pelukan itu satu persatu dengan jarak yang tak pernah menjadi satu. Tatalah harimu, jangan kau dengar omong kosong mereka yang telah menganggapmu mati.
Kau punya kehidupan, meski tanpa mereka. Walau dicerita yang telah lalu mereka pernah ikut mewarnai. Dan ingatlah, hanya sekadar pernah. Bukan berarti selamanya.
Singkawang, 10 Juli 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar