"Jangan lupa tersenyum. Hidup terlalu singkat untuk dipakai bersedih" sebuah quote oleh Fiersa Besari, yang biasa dipanggil Bung.
Kupikir, betapa kuat pengaruh dari kata-kata yang kita baca, dengarkan dan juga katakan. Tanpa disadari, perasaan pun bisa berubah dengan sesuatu yang memang positif adanya.
Aku hanya ingin berbagi cerita sedikit, menuangkan kisah yang membuatku senang saat mengenakan sebuah kaos yang memang diproduksi oleh Bung sendiri dengan quote-quote yang mampu menghipnotis para pembacanya.
Bukan. Aku bukan sedang promosi, hanya saja jika kalian ingin memesan kaosnya, langsung hubungi si Bung, yaaa :) bahannya adem kok. Te o pe deh. Hihihi
Kejadian ini mungkin sudah lewat beberapa minggu lalu, ketika aku mengurus sesuatu urusan di kampusku yang memang sekalipun selama aku kuliah tak pernah mendapatkan perlakuan luar biasa ramah di bagian tersebut. Itu sudah hal lumrah, yang mungkin karena memang mengurusi ribuan mahasiswa sehingga kesannya pelayanan lebih jutek.
Namun, terang saja ketika hari itu, kusingsingkan ujung jilbab ku ke kiri dan kanan sehingga tulisan yang ada di bagian depan pun jelas terlihat. Entah bagaimana caranya, jelas sekali kata-kata itu mampu menghipnotis beliau. Mekipun diserbu dengan ramainya mahasiswa lain, aku dilayani dengan ramah yang luar biasa. Sebelumnya, aku melihat bahwa beliau membaca tulisan di bajuku. Kemudian membawa beliau lebih kepada suasana nyaman dan tenang. Sehingga aku pun senang.
Entahlah berapa banyak urusan hari itu yang kuperbuat, semua berjalan begitu lancar dan harmonis. Aku merasakan kasih sayang sesama manusia yang memang seharusnya selalu terjalin.
Begitu pula ketika aku belanja di sebuah supermarket yang bisa dikatakan sangat sering untuk berbelanja di tempat tersebut. Memang, jarang sekali aku menemukan kasir yang benar-benar tulus saat melayani pembayaran. Entahlah jika itu hanya perasaanku saja. Yang pasti di hari itu, mbaknya membaca bajuku beberapa kali dan awal ekspresi wajah kutemukan tidak baik, berubah haluan menjadi senyum keikhlasan. Dan diakhir pembayaran mbaknya berkata "makaseh" dengan logat Melayu penuh dengan keakraban.
Lagi-lagi akupun merasa senang. Aku menyadari kata-kata di baju yang aku pakai memengaruhi pikiran seseorang.
Betapa hebatnya sebuah kata. Ya, kupikir begitulah.