Kamis, 07 Juli 2016

Meredam Rindu

Sebelumnya ku ucapkan Selamat Hari Raya Idulfitri 1437H. Taqobbalallahu minna wa minkum. Aamiin.

Sesudahnya aku ingin bercerita sedikit.
Menggoreskan kata yang terbersit.

Hai, apa kabar?...
Aku? Baik-baik saja, meski berlumuran rindu. Tapi tenang, bukan untukmu.

-------------------------------------------------------------------

Kau tau? Bahwa seketika aku merindu. Tapi sayang, aku ragu. Karena aku tak tau, pada siapa rindu menderu.

Resahku tak berujung. Hingga malam yang bermula dari terbukanya mata di pagi hari. Dengan segala keyakinan, kuucap bahwa aku rindu. Meski entah, sesungguhnya ku tak ingin merindu.

Perihal rindu, memang sulit ditebak. Datang sesuka hati meski ia tak punya hati. Namun mampu menyampaikan perasaan. Itulah rindu.

Rinduku ku redam, selalu. Meski tak pernah berhenti ia menyerang. Tetapi dengan sekuat hati aku terus melawan. Menafikkan rasa, apapun bentuknya.

7 Juli 2016.

Kamis, 09 Juni 2016

Hujan Bulan Juni

Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, dirahasikannya rintik rindunya kepada pohon berbunga itu.
.
.
Bagaimana mungkin seseorang memiliki keinginan untuk mengurai kembali benang yang tak terkirakan jumlahnya dalam selembar saputangan yang telah ditenunnya sendiri.

Bagaimana mungkin seseorang bisa mendadak terbebaskan dari jaringan benang yang susun-bersusun, silang-menyilang, timpa-menimpa dengan rapi di selembar saputangan yang sudah bertahun-tahun lamanya ditenun dengan sabar oleh jari-jarinya sendiri oleh kesunyiannya sendiri oleh ketabahannya sendiri oleh tarikan dan hembusan napasnya sendiri oleh rintik waktu dalam benaknya sendiri oleh kerinduannya sendiri oleh penghayatannya sendiri tentang hubungan-hubungan pelik antara perempuan dan laki-laki yang tinggal di sebuah ruangan kedap suara yang bernama kasih sayang.

Bagaimana mungkin.

Hujan Bulan Juni, Sapardi Djoko Damono.

Terlambat Namun Tepat

Awalnya kupikir terlambat. Ketika orang sedang menggebu-gebu seakan tengah berlari-lari aku malah asik berjalan atau bahkan diam. Sesuai alurku, sesuai inginku, sesuai mauku, semua seperti ini.

Mengalir, apa adanya. Meski kadang-kadang, tergenang dan bahkan kering.

Ku pikir, ketika aku membaca ini sebagian orang akan berpikir aku ketinggalan. Tapi, bagiku tak masalah. Aku baru saja memulai dan juga mengisi kembali semangat-semangat diri yang mulai terkikis.

Lebih dari delapan buku yang kubaca dalam beberapa bulan terakhir ini hanya beberapa bab diawalnya saja. Tak kuselesaikan. Ku gantung bahkan ku lupakan. Ntahlah, aku tak bisa menikmatinya meski selalu ku coba untuk memancingnya dengan bacaan-bacaan ringan lainnya.

Aku bagaikan hidup segan mati tak mau. Otak seolah-olah buntu. Pikiran membeku dan tak bisa berbabibu. Beraktivitas hanya dengan fisik tanpa bisa berpikir jernih. Ahk, aku memang jenuh. Suatu hal yang terus membayang-bayangi membuatku semakin stres belakangan ini.

Ku nikmati, ku syukuri, ku jalani. Hanya saja masih terasa membebani, padahal aku selalu membuangnya dari rasa beban. Biarlah, pasti akan ada waktu yang tepat.

Perjalananku menuju pulau jawa, memang kuniatkan untuk membawa buku bacaan yang kuharapkan mampu ku serap kembali dan merefreshkan apa yang telah beku. Dan buku ini adalah pilihanku.

Ku mulai membacanya ketika perjalanan menuju sebuah kota yang menjadi latar belakang cerita di dalam novel tersebut. Dan ternyata waktu kurang lebih 5jam-an yang ku tempuh tak kugunakan secara efektif. Aku mabuk perjalanan dan kemudian buku hanya ku letakkan di sampingku.

Singkat cerita, selama di kota tujuan. Buku selalu ku bawa kemana-mana disetiap hendak bepergian menggunakan kendaraan. Ku mulai mengenali sekeliling kota yang sekarang aku diami. Ku pahami isi buku yang sedang aku baca, semua mengalir menyatu. Aku menemukan kehidupan.

Dan ku pikir, seandainya di kota tempat ku tinggal bisa membaca di setiap perjalanan menuju kemana pun pasti mengasyikkan. Sayangnya, semua tak bisa ku lakukan (karena aku mengendarai sepeda motor dan kota tempat ku tinggal tidak dominan dengan  transportasi umum)

Terima Kasih Milea, Dilan, cerita kalian membawa kehidupan lagi untukku.
.
.
.
📝 Ketika aku merasa terlambat, ternyata aku berada di waktu yang tepat.
📷Nasya Nr.
.Bandung. Di kost orang.

Bukan untuk orang lain

Kau tak perlu menjadi siapapun,
cukup jadi dirimu sendiri.
Mungkin kita perlu belajar menata diri,
tetapi bukan menjadi pribadi orang lain.
.
.
.
- Nasya Nr -

Apalagi?

Ketika benar-benar lelah kau tak bisa istirahat.
Ketika benar-benar mengantuk kau tak bisa terpejam.
Ketika kau merindu tak kunjung bertemu.
Adakah hal yang lebih menyakitkan?
.
.
.
- Nasya Nr -

Kamis, 19 Mei 2016

Biola

Perihal waktu itu. Lama sudah ingin ku tuangkan tentang ini. Hanya saja, berbagai macam alasan selalu menghantui untukku tak melanjutkan tulisan.

Kembali ku mengingat.

Aku dikala itu yang sedang naik sebuah angkot sambil menikmati kemacetan. Tak heran sudah aku melihat berbagai macam ragam pengamen di kota-kota besar. Dari hal unik sampai hal tak masuk akal pun mereka lakukan demi mendapatkan uang.

Angkot terhenti, merayap pelan layaknya hewan. Seketika itu pula sang pengamen memainkan melodi-melodi yang terdengar dari sebuah biolanya.
Gesekan demi gesekan yang menghasilkan nada merdu, membuatku terpengarah. Dan juga alunan lagu yang dibawakannya merupakan lagu wajib, lagu-lagu kebangsaan Indonesia.

Aku yang kagum.
Terpana sambil terbuai masuk terhanyut pada melodi yang terlantun. Ku katakan sekali lagi bahwa aku kagum.
Ini ku akui unik. Sejauh aku berjalan, aku belum menemukan pengamen menggunakan biola, terlebih lagi lagu yang dibawakan adalah lagu wajib nasional. Lagu-lagu yang sudah hampir terlupakan. Terkalahkan dengan lagu-lagu yang tak punya makna dan sesuka hati.

Setelah selesai ia memainkan biolanya, angkot terus berjalan. Kemudian tanda tanya banyak merasuki pikiranku.
Tak adakah yang bisa menampungnya?
Sayang sekali hanya menjadi pengamen jalanan.
Bukankah ia berbakat?
Tidakkah kecintaannya terhadap Indonesia masih bisa diacungi jempol?
Tak adakah yang lebih dari apa yang ia lakukan sekarang?
Sayang jika tak diperhatikan.

Terkadang, Indonesia memang demikian.

Sendiri

Pada kesempatan ini, aku hanya ingin berbagi cerita. Sedikit tentang diriku. Kali ini tentang perjalananku ke Pulau Jawa sendirian. Mungkin tak ada yang istimewa bagi kalian, tapi bagiku sudah pasti ada.

Bukan perihal tentang tujuanku pergi ke Pulau Jawa. Tetapi perjalanan yang ku tempuh. Banyak faktor yang menyebabkan aku harus melakukan perjalanan kali ini sendirian. Yang dimana seharusnya aku pergi bertiga bersama temanku.  Tapi keadaan berkata lain, aku harus pergi sendirian dan dua orang temanku menyusul di sore hari.

Kali pertama sendirian melakukan perjalanan ke luar pulau tentu membuat aku grogi. Aku yang taunya serba praktis tapi harus menjamah proses. Aku yang biasanya pergi hanya sekadar pergi dan tinggal mengikuti saja, kali ini aku harus berjuang sendiri.

Dari bandara satu ke bandara lainnya tidak terlalu ku permasalahkan. Hal tersebut sudah jelas aturannya. Yang jadi permasalahan dan membuat ku berpikir panjang adalah ketika aku keluar Soetta, aku harus naik bus ke Bandung. Aku tau, jikalau naik taxi. Itu yang pernah dilakukan sebelumnya.

Ku coba tuk selalu bergaya sok selow namun penuh tanda tanya, dengan orang sekeliling yang memperhatikanku dengan bawaan carrier besar hanya seorang diri. No problem, aku senyum.

Aku ingat pesan ayahku yang menyarankan untuk naik sebuah bus yang terdapat di Soetta tersebut. Aku juga tak lelah untuk bilan tidak mengerti dan tidak tau perihal bus ke temanku. Namun temanku bilang "masak ndak tau" sambil dengan penjelasan lainnya.

Dan ketika aku keluar Soetta, maka mataku pun hanya tertuju pada taxi-taxi yang selalu berbaris cantik. Ah, sayangnya aku harus ke Bandung dan tidak memungkinkan dari segi apapun untuk aku menggunakan jasa taxi.

Ku sebrangi jalan sesuai penjelasan temanku, ternyata benar. Ada bus berjejer di sana. Hanya saja tak ku temukan tempat pembelian tiketnya. Ku pikir tempat pembelian tiket juga di sebrang. Ya, ini karena mataku ku jaga agar tak liar. Aku tak ingin tampak seperti orang kebingungan, padahal aku sudah bergantung pada tanda tanya yang besar.

Dengan sedikit keangkuhan dan gengsi yang sulit dikalahkan ini akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya. Hah, aku bertanya tentang ini? tak mudah rasanya. Bahkan sebelum aku berangkat, aku bilang, yang aku tak sanggup pergi sendiri tanpa pengetahuan ini adalah bertanya. Malas sekali rasanya. Dan yang utama adalah jika aku hendak ke toilet, maka barangku tak ada yang jaga.

Dan temanku juga sempat berkata "Kau betanyak? udah sesat yak ndak maok betanyak". Bisa disimpulkan bahwa aku, entahlah. Malas bertanya, malu bertanya, atau memelihara gengsi. Aku pun tak tau.

Menyambung cerita tadi, aku yang sudah menyebrang kemudian bertanya pada satpam dimana letak tempat penjualan tiket bus yang ingin aku tumpangi.

Pergi ku ke tempat tersebut, dan ternyata tidak seperti yang ku bayangkan, lah si tetehnya malah nanya mau kemana. Padahal disitu jelas-jelas tertera ke Bandung. Aku jadi bingung lagi.

Nah, sebelum aku. Ada bapak-bapak juga yang akan ke Bandung, namun dia masih bertanya-tanya antara travel dan bus.
Aku mah bus ae atuh, gak mau cari ribet lagi dah pokok e. Dan kemudian aku menjawab pertanyaan si Teteh, ke Bandung. Iya, ternyata terminalnya banyak. Nah loh bingung lagi, aku gak tau juga mau kemana.

Sampai aku ingat aku disaranin LO kegiatan aku yang bakal jemput bahwa turunnya di Leuwi Panjang aja. Ku sebut saja itu, tapi yang kusadari pas menyebutkannya, aku tak menyebutkan persis Leuwi Panjang. Haha, aku rasa lidahku terpeleset.

Singkat cerita, tiket sudah ditangan. Dan aku langsung naik bus. Tak ingin ku lewatkan tentang seorang porter bus tersebut yang baik hati. Mungkin aku cuma bisa bilang, makasih A' yang udah sabar ngadepin penumpang yang error kek gini mungkin ya.

Lewat sudah.

Ketika di bus, aku-ntah keyakinan darimana langsung bertanya pada si kernet perihal tujuan bus. Dan ternyata, bus berhenti di Caringin. Hiyyakk, dimana lagi itu, malam sebelumnya aku browsing nama terminal di Bandung, cuma tak terbaca ada Caringin.

Kemudian, kuberi kabar si LO, lah dia malah balik nanya Caringin Bandung apa Jatinangor, Piye iki rek. Aku lho ya tambah puyeng, bingung. Sampai ku tanyakan lagi pada si Kernet biar aku tak mandai-mandai.

Sudah jelas semua.

Lagi, LO ku bertanya kira-kira sampe jam berapa? Ini yang tau siapa toh??? aku yang pendatang ditanyain gitu, mana ini pertama kali ke Bandung cobak. Ku lihat saja di maps and navigation app, dan kuberi tau dia, skitar lebih kurang 3jam. Oke fix.

Dan komunikasi terus berjalan. LO ku bersama teman-temannya juga ternyata tak menguasai Bandung. Ya, karena mereka juga bukan domisili Bandung.

Menikmati perjalanan, aku banyak bertanya kepada supir dan kernet (kondektur), meminta  arahan aku harus apa dan bagaimana. Dan ini kali pertama aku sedemikian tak lagi malu untuk bertanya.

Sampai.
Aku sudah di Terminal Caringin.
Turun.
Kemudian menunggu jemputan dari LO yang lumayan lama, karena mereka perjalanan dari Jatinangor.
Dan Finally, aku selamat sentosa sampai di tempat penginapan meski harus dibawa berputar-putar karena sesama tak menguasai jalan. Haha!

Dan aku tertarik untuk berpetualang kembali sendirian!