Aku yang terus berjalan meski perlahan, tertatih dan jatuh berkali-kali. Aku yang mencoba untuk lari namun ternyata selalu berhenti. Adakah aku yang harus menanti? Adakah aku yang harus terbunuh mati? Aku gontai, berjalan lurus namun tak bisa tembus. Sekalipun, tak berniat barang sedetik saja aku ingin melihat ke belakang.
Aku sudah berhasil berjalan dari tempat persinggahan dengan senyuman manis meski hati pernah terkikis. Tatkala terus berjalan banyak persinggahan yang aku lewati begitu saja. Masih tak berniat aku menetap di sana meski dari beberapa yang ada mampu sedikit memberikan niat ingin mencoba tinggal. Namun, masih terasa asing. Aku tak mampu membuat keadaan begitu nyaman. Aku gagal. Aku tak pernah lupa, bahkan memaksa untuk lupa. Semakin ingin dilupakan semua yang pernah ada menjadi semakin ada. Sehingga aku membiarkannya terus mengikutiku, menemani waktu-waktuku.
Menerima kenyataan bahwa semua memang pernah ada, hanya sekedar pernah bukan berarti selamanya. Aku yang menerima dengan ikhlas, menjadi bukti kuat terkabulnya doa-doaku. "Terima kasih ya Allah, aku tau semua yang terjadi adalah yang terbaik. Semua hikmah telah aku dapatkan. Terima kasih masih menyadarkanku dari jalan yang salah. Berikan aku kekuatan. Ikhlaskan hatiku yang rapuh ini...." tuturku dalam sujud.