Kamis, 19 Mei 2016

Biola

Perihal waktu itu. Lama sudah ingin ku tuangkan tentang ini. Hanya saja, berbagai macam alasan selalu menghantui untukku tak melanjutkan tulisan.

Kembali ku mengingat.

Aku dikala itu yang sedang naik sebuah angkot sambil menikmati kemacetan. Tak heran sudah aku melihat berbagai macam ragam pengamen di kota-kota besar. Dari hal unik sampai hal tak masuk akal pun mereka lakukan demi mendapatkan uang.

Angkot terhenti, merayap pelan layaknya hewan. Seketika itu pula sang pengamen memainkan melodi-melodi yang terdengar dari sebuah biolanya.
Gesekan demi gesekan yang menghasilkan nada merdu, membuatku terpengarah. Dan juga alunan lagu yang dibawakannya merupakan lagu wajib, lagu-lagu kebangsaan Indonesia.

Aku yang kagum.
Terpana sambil terbuai masuk terhanyut pada melodi yang terlantun. Ku katakan sekali lagi bahwa aku kagum.
Ini ku akui unik. Sejauh aku berjalan, aku belum menemukan pengamen menggunakan biola, terlebih lagi lagu yang dibawakan adalah lagu wajib nasional. Lagu-lagu yang sudah hampir terlupakan. Terkalahkan dengan lagu-lagu yang tak punya makna dan sesuka hati.

Setelah selesai ia memainkan biolanya, angkot terus berjalan. Kemudian tanda tanya banyak merasuki pikiranku.
Tak adakah yang bisa menampungnya?
Sayang sekali hanya menjadi pengamen jalanan.
Bukankah ia berbakat?
Tidakkah kecintaannya terhadap Indonesia masih bisa diacungi jempol?
Tak adakah yang lebih dari apa yang ia lakukan sekarang?
Sayang jika tak diperhatikan.

Terkadang, Indonesia memang demikian.

Sendiri

Pada kesempatan ini, aku hanya ingin berbagi cerita. Sedikit tentang diriku. Kali ini tentang perjalananku ke Pulau Jawa sendirian. Mungkin tak ada yang istimewa bagi kalian, tapi bagiku sudah pasti ada.

Bukan perihal tentang tujuanku pergi ke Pulau Jawa. Tetapi perjalanan yang ku tempuh. Banyak faktor yang menyebabkan aku harus melakukan perjalanan kali ini sendirian. Yang dimana seharusnya aku pergi bertiga bersama temanku.  Tapi keadaan berkata lain, aku harus pergi sendirian dan dua orang temanku menyusul di sore hari.

Kali pertama sendirian melakukan perjalanan ke luar pulau tentu membuat aku grogi. Aku yang taunya serba praktis tapi harus menjamah proses. Aku yang biasanya pergi hanya sekadar pergi dan tinggal mengikuti saja, kali ini aku harus berjuang sendiri.

Dari bandara satu ke bandara lainnya tidak terlalu ku permasalahkan. Hal tersebut sudah jelas aturannya. Yang jadi permasalahan dan membuat ku berpikir panjang adalah ketika aku keluar Soetta, aku harus naik bus ke Bandung. Aku tau, jikalau naik taxi. Itu yang pernah dilakukan sebelumnya.

Ku coba tuk selalu bergaya sok selow namun penuh tanda tanya, dengan orang sekeliling yang memperhatikanku dengan bawaan carrier besar hanya seorang diri. No problem, aku senyum.

Aku ingat pesan ayahku yang menyarankan untuk naik sebuah bus yang terdapat di Soetta tersebut. Aku juga tak lelah untuk bilan tidak mengerti dan tidak tau perihal bus ke temanku. Namun temanku bilang "masak ndak tau" sambil dengan penjelasan lainnya.

Dan ketika aku keluar Soetta, maka mataku pun hanya tertuju pada taxi-taxi yang selalu berbaris cantik. Ah, sayangnya aku harus ke Bandung dan tidak memungkinkan dari segi apapun untuk aku menggunakan jasa taxi.

Ku sebrangi jalan sesuai penjelasan temanku, ternyata benar. Ada bus berjejer di sana. Hanya saja tak ku temukan tempat pembelian tiketnya. Ku pikir tempat pembelian tiket juga di sebrang. Ya, ini karena mataku ku jaga agar tak liar. Aku tak ingin tampak seperti orang kebingungan, padahal aku sudah bergantung pada tanda tanya yang besar.

Dengan sedikit keangkuhan dan gengsi yang sulit dikalahkan ini akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya. Hah, aku bertanya tentang ini? tak mudah rasanya. Bahkan sebelum aku berangkat, aku bilang, yang aku tak sanggup pergi sendiri tanpa pengetahuan ini adalah bertanya. Malas sekali rasanya. Dan yang utama adalah jika aku hendak ke toilet, maka barangku tak ada yang jaga.

Dan temanku juga sempat berkata "Kau betanyak? udah sesat yak ndak maok betanyak". Bisa disimpulkan bahwa aku, entahlah. Malas bertanya, malu bertanya, atau memelihara gengsi. Aku pun tak tau.

Menyambung cerita tadi, aku yang sudah menyebrang kemudian bertanya pada satpam dimana letak tempat penjualan tiket bus yang ingin aku tumpangi.

Pergi ku ke tempat tersebut, dan ternyata tidak seperti yang ku bayangkan, lah si tetehnya malah nanya mau kemana. Padahal disitu jelas-jelas tertera ke Bandung. Aku jadi bingung lagi.

Nah, sebelum aku. Ada bapak-bapak juga yang akan ke Bandung, namun dia masih bertanya-tanya antara travel dan bus.
Aku mah bus ae atuh, gak mau cari ribet lagi dah pokok e. Dan kemudian aku menjawab pertanyaan si Teteh, ke Bandung. Iya, ternyata terminalnya banyak. Nah loh bingung lagi, aku gak tau juga mau kemana.

Sampai aku ingat aku disaranin LO kegiatan aku yang bakal jemput bahwa turunnya di Leuwi Panjang aja. Ku sebut saja itu, tapi yang kusadari pas menyebutkannya, aku tak menyebutkan persis Leuwi Panjang. Haha, aku rasa lidahku terpeleset.

Singkat cerita, tiket sudah ditangan. Dan aku langsung naik bus. Tak ingin ku lewatkan tentang seorang porter bus tersebut yang baik hati. Mungkin aku cuma bisa bilang, makasih A' yang udah sabar ngadepin penumpang yang error kek gini mungkin ya.

Lewat sudah.

Ketika di bus, aku-ntah keyakinan darimana langsung bertanya pada si kernet perihal tujuan bus. Dan ternyata, bus berhenti di Caringin. Hiyyakk, dimana lagi itu, malam sebelumnya aku browsing nama terminal di Bandung, cuma tak terbaca ada Caringin.

Kemudian, kuberi kabar si LO, lah dia malah balik nanya Caringin Bandung apa Jatinangor, Piye iki rek. Aku lho ya tambah puyeng, bingung. Sampai ku tanyakan lagi pada si Kernet biar aku tak mandai-mandai.

Sudah jelas semua.

Lagi, LO ku bertanya kira-kira sampe jam berapa? Ini yang tau siapa toh??? aku yang pendatang ditanyain gitu, mana ini pertama kali ke Bandung cobak. Ku lihat saja di maps and navigation app, dan kuberi tau dia, skitar lebih kurang 3jam. Oke fix.

Dan komunikasi terus berjalan. LO ku bersama teman-temannya juga ternyata tak menguasai Bandung. Ya, karena mereka juga bukan domisili Bandung.

Menikmati perjalanan, aku banyak bertanya kepada supir dan kernet (kondektur), meminta  arahan aku harus apa dan bagaimana. Dan ini kali pertama aku sedemikian tak lagi malu untuk bertanya.

Sampai.
Aku sudah di Terminal Caringin.
Turun.
Kemudian menunggu jemputan dari LO yang lumayan lama, karena mereka perjalanan dari Jatinangor.
Dan Finally, aku selamat sentosa sampai di tempat penginapan meski harus dibawa berputar-putar karena sesama tak menguasai jalan. Haha!

Dan aku tertarik untuk berpetualang kembali sendirian!

Selasa, 10 Mei 2016

Batas Kesabaran

Ini ketika kemampuanku untuk bersabar telah habis. Aku yang bukan manusia penyabar tiba-tiba menjadi sabar tak menentu dengan segala ketentuan yang hasil nyatanya adalah kosong. Bukan tak berarti, aku mendapat kekuatan untuk bersabar lebih lama.

Perihal sekarang, kesabaran ku yang selalu dihabiskan untuk menunggu. Menunggu tanpa kepastian yang katanya untuk menuju masa depan. Namun kenyataan semua seperti khayalan. Aku tak menyalahkan siapa pun. Mungkin saja semesta belum berpihak padaku.

Kau tau, aku masih ingin bertahan dengan keadaan ketika semua orang menyuruhku untuk pergi dari yang sekarang. Mengganti apa yang telah ada dan segera melanjutkan.

Bukan perkara perasaan, ini masalahku dalam menyelesaikan tugas akhir. Aku yang sudah terlalu lama jalan ditempat. Seketika harus melanjutkan ternyata aku terhambat. Habis sudah semangat. Aku tak menentu, seperti tekanan yang terus-terusan menyayat.

Bagi sebagian orang ini hal lumrah bagi mahasiswa yang sedang menyusun, hanya saja ternyata aku tak sekuat mereka yang sudah-sudah. Aku juga tak seberuntung mereka yang mendapat kenyamanan. Tapi aku suka tantangan. Meskipun semua ternyata halangan.

Semua waktu sudah habis terbuang tanpa ada hasil. Aku menghabiskan harta berharga yang tidak bisa dibeli.

Senin, 09 Mei 2016

Terima Kasih

Teruntuk kau...
Seseorang yang belum menyerah. Yang masih selalu ada dan terus mencoba ada. Berjuang dari titik nol. Yang mencoba pergi namun kembali. Itu yang aku tau, selebihnya kau yang paham.

Aku...
Bukan seseorang yang mampu membalas kebaikanmu. Bukan orang yang mudah kau tarik perhatiannya. Butuh waktu, proses dan bahkan butuh keyakinan untuk kau melakukannya.

Kau...
Seseorang yang masih bertahan meski terhitung dalam waktu yang panjang. Belum meninggalkan seperti yang sudah-sudah. Selalu berusaha dan memahami.

Kita...
Dua insan yang sedang berusaha.

Kau...
Berusaha menarikku dalam duniamu.

Aku...
Berusaha untuk tertarik dalam duniamu.

Semoga usahamu memberi bahagia. Karenanya, aku bersyukur.

Minggu, 08 Mei 2016

Kenangan

Entah apa yang membawanya hingga ke titik ini. Detik dimana orang-orang masih membicarakannya. Detik dimana semua masih tentangnya.

Semua cerita yang sudah tenggelam seolah-olah muncul kembali ke permukaan. Padahal mungkin tak ada yang menginginkannya. Hanya saja semua mengalir seperti air.

Tidak. Aku tidak ingin meratapi sebuah cerita yang lalu. Mungkin bisa dibilang nostalgia, hanya sekadar nostalgia. Tidak lebih.

Cerita-cerita menarik sebelumnya, semakin terngiang aku rasa semakin membuat dewasa. Berpikir tak akan mengulang kesalahan yang sama.

Takkan ada yang membebani pikiranku, selagi tak ada harapan yang muncul kembali. Tetap seperti ini untuk mendewasakan diri. Jangan pernah berhenti. Selalu tersenyum mengingat hari.

Sabtu, 07 Mei 2016

Sendu

Matahari tenggelam. Hingga kemudian ia kalah. Tidak berhasil memancarkan sinarnya yang begitu tajam ke bumi. Langit mendung berwarna abu-abu gelap dan bersih tertutup awan menjadi pemenang.

Air menyerbu jatuh ke tanah. Katanya, rindu. Pertemuan air hujan dan tanah yang begitu mengharukan. Padahal akhir-akhir ini mereka sering bertemu melepas rindu.

Kunikmati saja mendung menemani. Toh, hujan selalu jadi teman terbaik. Namun kali ini nyatanya aku tak mampu menikmati hujan. Dan aku kalah terhadap tubuhku sendiri.

Tubuh melemah, yang kemudian dimimpikan dengan segudang kejadian. Entahlah, mungkin karena memang sedang banyak pikiran yang membuat drop. Biar sajalah, pikirku.

Bagaimanapun keadaan alam telah menunjukkan apa yang sedang aku rasakan. Mendung. Gelap. Hujan. Dan tak bercahaya.

Berhenti


Malam semakin pekat. Aku yang tak bisa berpikir dengan jernih hanya bisa berjanji pada diri sendiri secara terus menerus. Padahal aku tak suka janji. Kau tau betapa aku membenci janji? Sekiranya seperti aku tak akan pernah menghiraukan seseorang yang telah ingkar janji.

Apapun putusannya, bagaimanapun tanggapannya, aku akan tetap mengikuti kemauanku. Terkesan egois, padahal sudah sedari lahir.

Mulai sekarang, aku berhenti lagi.

NasyaNurrachma, 22.

Jumat, 06 Mei 2016

RINDU


Kau tahu?
Ketika harus menahan pandangan agar tak melihatmu.
Kau tau?
Ketika harus tak tersenyum saat memandangmu.
Kau tau?
Ketika harus seolah-olah menutup telinga  saat kau bersuara.

Padahal...
Meski kau tak ada selalu saja aku ingin melihat.
Padahal...
Meski kau tak menoleh selalu saja aku ingin memandang.
Padahal..
Satu kata terucap dari mulutmu selalu saja ingin ku dengar.

Kau tau?
Padahal...
Aku rindu...

NasyaNurrachma, RINDU.
Pada tatapmu yang meneduhkan.