Perihal waktu itu. Lama sudah ingin ku tuangkan tentang ini. Hanya saja, berbagai macam alasan selalu menghantui untukku tak melanjutkan tulisan.
Kembali ku mengingat.
Aku dikala itu yang sedang naik sebuah angkot sambil menikmati kemacetan. Tak heran sudah aku melihat berbagai macam ragam pengamen di kota-kota besar. Dari hal unik sampai hal tak masuk akal pun mereka lakukan demi mendapatkan uang.
Angkot terhenti, merayap pelan layaknya hewan. Seketika itu pula sang pengamen memainkan melodi-melodi yang terdengar dari sebuah biolanya.
Gesekan demi gesekan yang menghasilkan nada merdu, membuatku terpengarah. Dan juga alunan lagu yang dibawakannya merupakan lagu wajib, lagu-lagu kebangsaan Indonesia.
Aku yang kagum.
Terpana sambil terbuai masuk terhanyut pada melodi yang terlantun. Ku katakan sekali lagi bahwa aku kagum.
Ini ku akui unik. Sejauh aku berjalan, aku belum menemukan pengamen menggunakan biola, terlebih lagi lagu yang dibawakan adalah lagu wajib nasional. Lagu-lagu yang sudah hampir terlupakan. Terkalahkan dengan lagu-lagu yang tak punya makna dan sesuka hati.
Setelah selesai ia memainkan biolanya, angkot terus berjalan. Kemudian tanda tanya banyak merasuki pikiranku.
Tak adakah yang bisa menampungnya?
Sayang sekali hanya menjadi pengamen jalanan.
Bukankah ia berbakat?
Tidakkah kecintaannya terhadap Indonesia masih bisa diacungi jempol?
Tak adakah yang lebih dari apa yang ia lakukan sekarang?
Sayang jika tak diperhatikan.
Terkadang, Indonesia memang demikian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar