Kamis, 19 Mei 2016

Sendiri

Pada kesempatan ini, aku hanya ingin berbagi cerita. Sedikit tentang diriku. Kali ini tentang perjalananku ke Pulau Jawa sendirian. Mungkin tak ada yang istimewa bagi kalian, tapi bagiku sudah pasti ada.

Bukan perihal tentang tujuanku pergi ke Pulau Jawa. Tetapi perjalanan yang ku tempuh. Banyak faktor yang menyebabkan aku harus melakukan perjalanan kali ini sendirian. Yang dimana seharusnya aku pergi bertiga bersama temanku.  Tapi keadaan berkata lain, aku harus pergi sendirian dan dua orang temanku menyusul di sore hari.

Kali pertama sendirian melakukan perjalanan ke luar pulau tentu membuat aku grogi. Aku yang taunya serba praktis tapi harus menjamah proses. Aku yang biasanya pergi hanya sekadar pergi dan tinggal mengikuti saja, kali ini aku harus berjuang sendiri.

Dari bandara satu ke bandara lainnya tidak terlalu ku permasalahkan. Hal tersebut sudah jelas aturannya. Yang jadi permasalahan dan membuat ku berpikir panjang adalah ketika aku keluar Soetta, aku harus naik bus ke Bandung. Aku tau, jikalau naik taxi. Itu yang pernah dilakukan sebelumnya.

Ku coba tuk selalu bergaya sok selow namun penuh tanda tanya, dengan orang sekeliling yang memperhatikanku dengan bawaan carrier besar hanya seorang diri. No problem, aku senyum.

Aku ingat pesan ayahku yang menyarankan untuk naik sebuah bus yang terdapat di Soetta tersebut. Aku juga tak lelah untuk bilan tidak mengerti dan tidak tau perihal bus ke temanku. Namun temanku bilang "masak ndak tau" sambil dengan penjelasan lainnya.

Dan ketika aku keluar Soetta, maka mataku pun hanya tertuju pada taxi-taxi yang selalu berbaris cantik. Ah, sayangnya aku harus ke Bandung dan tidak memungkinkan dari segi apapun untuk aku menggunakan jasa taxi.

Ku sebrangi jalan sesuai penjelasan temanku, ternyata benar. Ada bus berjejer di sana. Hanya saja tak ku temukan tempat pembelian tiketnya. Ku pikir tempat pembelian tiket juga di sebrang. Ya, ini karena mataku ku jaga agar tak liar. Aku tak ingin tampak seperti orang kebingungan, padahal aku sudah bergantung pada tanda tanya yang besar.

Dengan sedikit keangkuhan dan gengsi yang sulit dikalahkan ini akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya. Hah, aku bertanya tentang ini? tak mudah rasanya. Bahkan sebelum aku berangkat, aku bilang, yang aku tak sanggup pergi sendiri tanpa pengetahuan ini adalah bertanya. Malas sekali rasanya. Dan yang utama adalah jika aku hendak ke toilet, maka barangku tak ada yang jaga.

Dan temanku juga sempat berkata "Kau betanyak? udah sesat yak ndak maok betanyak". Bisa disimpulkan bahwa aku, entahlah. Malas bertanya, malu bertanya, atau memelihara gengsi. Aku pun tak tau.

Menyambung cerita tadi, aku yang sudah menyebrang kemudian bertanya pada satpam dimana letak tempat penjualan tiket bus yang ingin aku tumpangi.

Pergi ku ke tempat tersebut, dan ternyata tidak seperti yang ku bayangkan, lah si tetehnya malah nanya mau kemana. Padahal disitu jelas-jelas tertera ke Bandung. Aku jadi bingung lagi.

Nah, sebelum aku. Ada bapak-bapak juga yang akan ke Bandung, namun dia masih bertanya-tanya antara travel dan bus.
Aku mah bus ae atuh, gak mau cari ribet lagi dah pokok e. Dan kemudian aku menjawab pertanyaan si Teteh, ke Bandung. Iya, ternyata terminalnya banyak. Nah loh bingung lagi, aku gak tau juga mau kemana.

Sampai aku ingat aku disaranin LO kegiatan aku yang bakal jemput bahwa turunnya di Leuwi Panjang aja. Ku sebut saja itu, tapi yang kusadari pas menyebutkannya, aku tak menyebutkan persis Leuwi Panjang. Haha, aku rasa lidahku terpeleset.

Singkat cerita, tiket sudah ditangan. Dan aku langsung naik bus. Tak ingin ku lewatkan tentang seorang porter bus tersebut yang baik hati. Mungkin aku cuma bisa bilang, makasih A' yang udah sabar ngadepin penumpang yang error kek gini mungkin ya.

Lewat sudah.

Ketika di bus, aku-ntah keyakinan darimana langsung bertanya pada si kernet perihal tujuan bus. Dan ternyata, bus berhenti di Caringin. Hiyyakk, dimana lagi itu, malam sebelumnya aku browsing nama terminal di Bandung, cuma tak terbaca ada Caringin.

Kemudian, kuberi kabar si LO, lah dia malah balik nanya Caringin Bandung apa Jatinangor, Piye iki rek. Aku lho ya tambah puyeng, bingung. Sampai ku tanyakan lagi pada si Kernet biar aku tak mandai-mandai.

Sudah jelas semua.

Lagi, LO ku bertanya kira-kira sampe jam berapa? Ini yang tau siapa toh??? aku yang pendatang ditanyain gitu, mana ini pertama kali ke Bandung cobak. Ku lihat saja di maps and navigation app, dan kuberi tau dia, skitar lebih kurang 3jam. Oke fix.

Dan komunikasi terus berjalan. LO ku bersama teman-temannya juga ternyata tak menguasai Bandung. Ya, karena mereka juga bukan domisili Bandung.

Menikmati perjalanan, aku banyak bertanya kepada supir dan kernet (kondektur), meminta  arahan aku harus apa dan bagaimana. Dan ini kali pertama aku sedemikian tak lagi malu untuk bertanya.

Sampai.
Aku sudah di Terminal Caringin.
Turun.
Kemudian menunggu jemputan dari LO yang lumayan lama, karena mereka perjalanan dari Jatinangor.
Dan Finally, aku selamat sentosa sampai di tempat penginapan meski harus dibawa berputar-putar karena sesama tak menguasai jalan. Haha!

Dan aku tertarik untuk berpetualang kembali sendirian!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar