Rangkaian Huruf
Sebatas tulisan, tercipta dari coretan huruf yang terangkai. Tak bermaksud untuk bercerita.
Jumat, 22 November 2019
Kista Ovarium Terpuntir
Rabu, 22 Februari 2017
Haruskah dewasa?
Apa yang membuat kita harus menjadi dewasa? Mengapa kita harus menjadi dewasa? Pertanyaan itu selalu menerkamku untuk meminta jawaban.
Ku pikir, semakin hari kehidupan yang kita tempuh akan semakin sulit untuk kita terjang. Berliku, curam, bahaya, mematikan. Begitukah?
Menjadi dewasa mungkin saja agar kita bisa bertahan, seperti di kehidupan yang sekarang. Bisa jadi. Sekali lagi, itu hanya pikirku.
Bisakah aku tak menjadi dewasa? (re; orang dewasa) bisakah aku tetap menikmati masa-masa yang tak membuatku seperti bertaruh dengan hidup? Ah, aku rindu!
Aku rindu pada apa apa yang tak membuat ku seperti sekarang ini.
Rindu menikmati pelukan ibu. Duduk di pangkuan ayah.
Pontianak, 22 Februari 2017. 23:34.
Selasa, 06 Desember 2016
Malamku
Di langit yang masih ku pandang sama, namun wajahmu telah samar tak membentuk.
Pergi terbawa angin yang tak berujung, berantakan.
Hingga tak kutemukan puing-puing itu.
Dan aku tak lagi menemukanmu di malam-malam ku.
.
.
.
.
.
Rabu, 6 Desember 2016 00:15
Selasa, 01 November 2016
Pada Tatap Yang Meneduhkan
Entahlah...
Aku bertemu dengan tatap itu lagi.
Tatap mata yang selalu membuatku merasa teduh.
Dan pada hatimu yang pernah aku singgahi, sungguh, aku tak ingin kembali.
Bisakah kita tak membohongi perasaan? Bisakah kita tak memenangkan ego masing-masing? Bisakah kita saling merendahkan hati untuk memberi arti? Bisakah kita menjaga apa yang seharusnya sudah ada? Bisakah kita tak mengkhianati hati yang selalu menjadi alasan untuk berhenti?
Aku tak menemukan kebahagiaan yang terpancar dari kedua matamu. Ada apa? Ceritalah, sayang.
Pada tatap matamu yang tajam namun meneduhkan. Aku, rindu.
NasyaNurrachma, 22.
Seperti Tercekik
Seperti tercekik..
Mendengar suaramu, namun aku tak bersuara...
Melihatmu, namun kau tak bisa ku tatap...
Berada di sampingmu, namun kau tak bisa kudekap..
Seperti tercekik...
Berada di ruang yang sama, namun kita saling diam membisu...
Membungkam kata-kata lalu seolah menutup mata...
Mematikan perasaan lalu memenangkan gengsi...
Merebah ego namun masih tak bisa dinego.
Seperti tercekik...
Semua tertawa bahagia namun kita terbalut rasa kaku...
Saling mengobati hati, namun ternyata masih ada yang tersakiti.
Seperti tercekik...
Lalu kita menghujam rasa, agar tak lagi berkelana pada yang sama...
NasyaNurrachma, 22.
Minggu, 23 Oktober 2016
Tersenyumlah
"Jangan lupa tersenyum. Hidup terlalu singkat untuk dipakai bersedih" sebuah quote oleh Fiersa Besari, yang biasa dipanggil Bung.
Kupikir, betapa kuat pengaruh dari kata-kata yang kita baca, dengarkan dan juga katakan. Tanpa disadari, perasaan pun bisa berubah dengan sesuatu yang memang positif adanya.
Aku hanya ingin berbagi cerita sedikit, menuangkan kisah yang membuatku senang saat mengenakan sebuah kaos yang memang diproduksi oleh Bung sendiri dengan quote-quote yang mampu menghipnotis para pembacanya.
Bukan. Aku bukan sedang promosi, hanya saja jika kalian ingin memesan kaosnya, langsung hubungi si Bung, yaaa :) bahannya adem kok. Te o pe deh. Hihihi
Kejadian ini mungkin sudah lewat beberapa minggu lalu, ketika aku mengurus sesuatu urusan di kampusku yang memang sekalipun selama aku kuliah tak pernah mendapatkan perlakuan luar biasa ramah di bagian tersebut. Itu sudah hal lumrah, yang mungkin karena memang mengurusi ribuan mahasiswa sehingga kesannya pelayanan lebih jutek.
Namun, terang saja ketika hari itu, kusingsingkan ujung jilbab ku ke kiri dan kanan sehingga tulisan yang ada di bagian depan pun jelas terlihat. Entah bagaimana caranya, jelas sekali kata-kata itu mampu menghipnotis beliau. Mekipun diserbu dengan ramainya mahasiswa lain, aku dilayani dengan ramah yang luar biasa. Sebelumnya, aku melihat bahwa beliau membaca tulisan di bajuku. Kemudian membawa beliau lebih kepada suasana nyaman dan tenang. Sehingga aku pun senang.
Entahlah berapa banyak urusan hari itu yang kuperbuat, semua berjalan begitu lancar dan harmonis. Aku merasakan kasih sayang sesama manusia yang memang seharusnya selalu terjalin.
Begitu pula ketika aku belanja di sebuah supermarket yang bisa dikatakan sangat sering untuk berbelanja di tempat tersebut. Memang, jarang sekali aku menemukan kasir yang benar-benar tulus saat melayani pembayaran. Entahlah jika itu hanya perasaanku saja. Yang pasti di hari itu, mbaknya membaca bajuku beberapa kali dan awal ekspresi wajah kutemukan tidak baik, berubah haluan menjadi senyum keikhlasan. Dan diakhir pembayaran mbaknya berkata "makaseh" dengan logat Melayu penuh dengan keakraban.
Lagi-lagi akupun merasa senang. Aku menyadari kata-kata di baju yang aku pakai memengaruhi pikiran seseorang.
Betapa hebatnya sebuah kata. Ya, kupikir begitulah.
Minggu, 10 Juli 2016
Menata Kehidupan
Lagi-lagi aku belajar, disetiap waktu dan tempat kemudian perjalanan.
Ketika pilihan selalu datang mendesak, ingatlah mana yang lebih kau setujui dan disertai mana yang lebih penting meski berujung pusing.
Hal yang demikian pasti tak jarang kau rasakan. Hanya saja harus saling mengikhlaskan. Rela meninggalkan salah satu atau semuanya. Karena tidak memilih pun adalah sebuah pilihan, kau yang mengendalikan.
Walaupun diujung pilihan ada rasa kekecewaan, setidaknya kau bisa melihat mana yang benar-benar nyata ada untuk mendukungmu dan mana yang hanya sekadar berbabibu.
Mulailah berpikir kembali, yang awalnya ingin kau perjuangkan namun tak ada dukungan seketika itu pula kau hanya beralih sekali namun kembali tetapi malah dianggap mati, ikhlaskanlah.
Lihat siapa yang memelukmu setiap hari. Siapa yang kemudian akan kau lepas pelukan itu satu persatu dengan jarak yang tak pernah menjadi satu. Tatalah harimu, jangan kau dengar omong kosong mereka yang telah menganggapmu mati.
Kau punya kehidupan, meski tanpa mereka. Walau dicerita yang telah lalu mereka pernah ikut mewarnai. Dan ingatlah, hanya sekadar pernah. Bukan berarti selamanya.
Singkawang, 10 Juli 2016